tentang tuhan
Januari 12, 2007
*tips: baca pelan – pelan dan amati gerak gerik pikiran.
*dari: J Krishnamurti, “On God”, 1992
PENANYA: Manusia harus tahu Tuhan itu apa sebelum ia dapat mengenal Tuhan. Bagaimana Anda mengenalkan ide Tuhan kepada manusia tanpa menarik Tuhan ke tingkat manusia?
J KRISHNAMURTI: Tidak dapat, Pak. Begini, apakah dorongan di balik pencarian Tuhan, dan apakah pencarian itu nyata? Bagi kebanyakan dari kita, itu pelarian dari aktualitas. Jadi, kita harus amat jelas dalam diri kita sendiri, apakah pencarian Tuhan ini merupakan pelarian, ataukah itu pencarian akan kebenaran di dalam segala sesuatu–kebenaran di dalam hubungan-hubungan kita, kebenaran di dalam nilai-nilai berbagai hal,kebenaran di dalam ide-ide. Jika kita mencari Tuhan hanya karena kita lelah dengan dunia ini beserta kesengsaraannya, maka itu suatu pelarian. Maka kita menciptakan Tuhan, dan dengan demikian itu bukan Tuhan. Tuhan di tempat-tempat ibadah, di kitab-kitab, bukan Tuhan; jelas, itu suatu pelarian yang menarik. Tetapi, jika kita mencoba menemukan kebenaran, bukan di dalam satu pola tindakan eksklusif, melainkan di dalam semua tindakan,ide, dan hubungan kita, jika kita mencari penilaian yang benar akan makanan, pakaian, dan rumah kita, maka oleh karena batin kita mampu memiliki kejelasan dan pemahaman, ketika kita mencari realitas kita akan menemukannya. Maka itu bukanlah pelarian. Tetapi jika kita bingung dalam hubungan dengan hal-hal di dunia ini–makanan, pakaian, rumah, hubungan, dan ide-ide–bagaimana kita bisa menemukan realitas? Kita hanya dapat menciptakan “realitas”. Jadi, Tuhan, kebenaran, atau realitas, tidak dapat dikenal oleh batin yang bingung, terkondisi, dan terbatas. Bagaimana batin seperti itu bisa memikirkan realitas atau Tuhan? Ia harus lebih dulu menanggalkan keterkondisian dirinya. Ia harus membebaskan diri dari keterbatasannya sendiri, dan baru sesudah itu ia bisa mengenal apa itu Tuhan; jelas bukan sebelumnya. Realitas adalah apa yang tak dikenal; dan apa yang dikenal bukanlah yang nyata.
Jadi, batin yang ingin mengenal realitas harus membebaskan diri dari keterkondisiannya sendiri, dan keterkondisian itu diterapkan dari luar atau dari dalam; dan selama batin menciptakan pertentangan, konflik dalam hubungan, ia tidak bisa mengenal realitas. Jadi jika kita ingin mengenal realitas, batin harus tenang; tetapi jika batin dipaksa, didisiplinkan untuk tenang, ketenangan itu sendiri adalah keterbatasan, itu hanya hipnosis-diri. Batin menjadi bebas dan tenang hanya apabila ia memahami nilai-nilai yang mengelilinginya. Jadi untuk memahami apa yang tertinggi, yang terbesar, yang nyata, kita harus mulai sangat rendah, sangat dekat; artinya, kita harus menemukan nilai dari hal-hal di sekeliling kita, nilai hubungan, nilai ide, yang menyibukkan kita setiap hari. Tanpa memahami hal-hal itu, bagaimana batin bisa mencari realitas? Ia bisa menciptakan “realitas”, ia bisa mengkopi, ia bisa meniru; karena ia telah membaca begitu banyak buku, ia bisa mengulang pengalaman orang lain. Tetapi jelas itu bukan yang nyata. Untuk mengalami yang nyata, batin harus berhenti
mencipta, oleh karena apa yang diciptakannya masih berada di dalam belenggu
waktu. Masalahnya bukan apakah Tuhan itu ada atau tidak ada, tetapi bagaimana manusia bisa menemukan Tuhan. Jika dalam pencariannya ia melepaskan diri dari segala sesuatu, ia pasti akan menemukan realitas itu. Tetapi ia harus mulai dengan yang dekat, bukan dengan yang jauh. Jelas, untuk pergi jauh kita harus mulai dari yang dekat. Tetapi kebanyakan dari kita ingin berspekulasi, yang adalah pelarian yang amat nyaman. Itulah sebabnya mengapa agama menawarkan obat bius yang begitu enak bagi kebanyakan manusia.
Maka, tugas melepaskan batin dari semua nilai yang telah diciptakannya adalah tugas yang panjang dan melelahkan, dan oleh karena batin kita lelah, atau kita malas, kita lebih suka buku-buku agama dan berspekulasi tentang Tuhan; tetapi jelas, itu bukanlah penemuan realitas. Merealisasikan berarti mengalami, bukan mengimitasi.
PENANYA: Apakah batin berbeda dari si pemikir?
J KRISHNAMURTI: Begini, apakah si pemikir berbeda dari pikiran-pikirannya? Apakah si pemikir eksis tanpa pikiran-pikirannya? Adakah si pemikir yang terpisah dari pikiran-pikirannya? Berhentilah berpikir, lalu di mana si pemikir? Apakah si pemikir satu pikiran berbeda dari si pemikir pikiran lain? Apakah si pemikir terpisah dari pikirannya,ataukah pikiran itu yang menciptakan si pemikir, yang kemudian mengidentifikasikan diri dengan pikiran bila dia melihat itu enak, dan memisahkan diri bila dia melihat itu tidak enak? Artinya, apakah sang ‘aku’ ini,
si pemikir ini? Jelas, si pemikir terdiri dari berbagai pikiran yang kemudian mengidentifikasikan diri sebagai sang ‘aku’. Jadi pikiranlah yang menciptakan
si pemikir, bukan sebaliknya. Jika saya tidak punya pikiran, maka tidak ada
si pemikir; bukan berarti si pemikir tiap kali berbeda, tetapi jika tidak ada pikiran, tidak ada pula si pemikir. Jadi pikiran menciptakan si pemikir, seperti tindakan menciptakan si pelaku. Si pelaku tidak menciptakan tindakan.
PENANYA: Pengalaman saya adalah bahwa tanpa kerjasama sang ‘aku’, tidak
ada persepsi.
J KRISHNAMURTI: Kita tidak bisa bicara tentang persepsi murni. Persepsi selamanya tercampur si ‘pelihat’ [perceiver]–itu fenomena bersama. Jika kita bicara tentang persepsi, si pelihat seketika terbawa masuk. Di luar pengalaman kitalah untuk bicara tentang ‘melihat’ [perceiving]; kita tidak pernah punya pengalaman tentang ‘melihat’. Anda mungkin tidur nyenyak, ketika si ‘pelihat’ tidak ‘melihat’ dirinya; tetapi di dalam tidur nyenyak tidak ada persepsi maupun si ‘pelihat’. Jika Anda tahu suatu keadaan yang di situ si ‘pelihat’ ‘melihat’ dirinya tanpa menyeret obyek-obyek persepsi lain, hanya di situ Anda bisa bicara secara sahih tentang si ‘pelihat’. Selama keadaan itu tak diketahui, kita tidak berhak bicara tentang tentang si ‘pelihat’ sebagai terpisah dari persepsi. Jadi si ‘pelihat’ dan persepsi adalah fenomena bersama, mereka adalah dua sisi mata uang yang sama. Mereka tidak terpisah, dan kita tidak berhak memisahkan dua hal yang tidak terpisah. Kita berkeras memisahkan si ‘pelihat’ dari persepsi, padahal tidak ada landasan sahih untuk itu. Kita tidak kenal si ‘pelihat’ tanpa persepsinya, dan kita tidak kenal persepsi tanpa si ‘pelihat’. Dengan demikian, satu-satunya konklusi yang sahih adalah bahwa persepsi dan si ‘pelihat’, sang ‘aku’ dan kehendaknya, adalah dua sisi dari mata uang yang sama; mereka adalah dua aspek dari fenomena yang sama, yang bukan persepsi bukan pula si ‘pelihat’. Tetapi penyelidikan yang akurat tentang itu membutuhkan perhatian yang teliti.
PENANYA: Ke mana itu membawa kita?
J KRISHNAMURTI: Pak, masalah ini muncul dari penyelidikan terhadap pencarian Tuhan. Jelas, kebanyakan dari kita ingin tahu pengalaman tentang realitas. Sesungguhnya, itu bisa diketahui hanya apabila si pengalam berhenti mengalami, oleh karena si pengalam menciptakan pengalaman. Jika si pengalam menciptakan pengalaman, maka ia akan menciptakan Tuhan; dengan demikian itu bukan Tuhan. Dapatkah si pengalam berakhir? Itulah seluruh inti dari permasalahan ini. Nah, jika si pengalam dan pengalaman merupakan fenomena bersama, yang begitu gamblang, maka si pengalam, si pelaku, si pemikir, harus berhenti berpikir. Tidakkah itu jelas? Jadi, dapatkah si pemikir berhenti berpikir? Oleh karena, jika ia berpikir, ia mencipta, dan apa yang diciptakannya bukanlah apa yang nyata. Dengan demikian, untuk menemukan apakah ada atau tidak ada realitas, Tuhan, entah apa lagi namanya, proses pikiran harus berakhir, yang berarti bahwa
si pemikir harus berakhir–apakah ia dihasilkan oleh pikiran, tidak relevan di sini. Seluruh proses pikiran, yang mencakup si pemikir harus berakhir. Hanya di situ kita akan menemukan realitas. Nah, pertama-tama, dalam mengakhiri proses itu, bagaimana itu harus dilakukan, dan siapa yang akan melakukannya?
Jika si pemikir yang melakukannya, si pemikir masih produk dari pikiran.Si pemikir
yang mengakhiri pikiran masih produk dari pikiran. Jadi apa yang harus diperbuat oleh si pemikir? Setiap usaha dari pihaknya masih merupakan proses berpikir. Saya harap saya bisa menyampaikan ini dengan jelas.
PENANYA: Mengapa kita berkeras memisahkan si ‘pelihat’ dari persepsi,
si pengingat dari ingatan? Bukankah ini akar dari kesusahan kita?
J KRISHNAMURTI: Kita memisahkannya oleh karena si pengingat, si pengalam,
si pemikir, menjadi kekal dengan pemisahan itu. Ingatan jelas cepat berlalu; maka si pengingat, si pengalam, batin, memisahkan diri oleh karena ia menginginkan keabadian. Batin yang berupaya, yang berjuang, yang memilih, yang didisiplinkan, jelas tidak dapat menemukan apa yang nyata; oleh karena, seperti telah kami katakan, justru dengan daya upaya itu ia memproyeksikan dirinya dan mendukung si pemikir. Sekarang, bagaimana membebaskan si pemikir dari pikirannya? Inilah yang kita diskusikan sekarang. Oleh karena apa pun yang dipikirkannya mau tidak mau hasil masa lampau, dan dengan demikian ia menciptakan Tuhan, kebenaran, dari ingatannya, yang jelas tidak nyata. Dengan kata lain, batin terus-menerus bergerak dari apa yang diketahui kepada apa yang diketahui. Bila ingatan bekerja, batin hanya bisa bergerak di dalam lingkup apa yang diketahui; dan bila ia bergerak di dalam lingkup apa yang diketahui, ia tidak pernah bisa tahu apa yang tak diketahui. Jadi, problem kita adalah bagaimana
membebaskan batin dari apa yang diketahui. Untuk membebaskan diri dari apa
yang diketahui, setiap upaya apa pun merugikan, oleh karena upaya masih berasal dari apa yang diketahui. Jadi, semua upaya harus berhenti. Pernahkah Anda mencoba berada tanpa upaya? Jika saya memahami bahwa segala upaya sia-sia, bahwa segala upaya adalah proyeksi lagi dari batin, dari sang ‘aku’, dari si pemikir, Jika saya menyadari kebenaran hal itu, apa yang terjadi? Jika saya melihat amat jelas label “Racun” pada sebuah botol, saya akan menghindarinya. Tidak perlu upaya untuk tidak tertarik kepadanya. Begitu pula–dan di sini terletak kesukaran terbesar–jika saya menyadari bahwa upaya apa pun di pihak saya merugikan, jika saya melihat kebenaran hal itu, maka saya bebas darinya. Upaya apa pun di pihak kita merugikan, tetapi kita tidak yakin, karena kita menginginkan suatu hasil, kita menginginkan suatu pencapaian–dan itulah kesukaran kita. Demikianlah kita berjuang, berjuang, berjuang terus. Tetapi Tuhan, kebenaran, bukanlah hasil, ganjaran, tujuan. Sesungguhnya, itu harus datang kepada kita, kita tidak bisa pergi mendapatkannya. Jika kita berupaya pergi mendapatkannya, kita mencari hasil, pencapaian. Tetapi agar kebenaran datang, manusia harus sadar [aware] secara pasif. Kesadaran pasif adalah keadaan yang di situ tidak ada upaya; itu berarti sadar tanpa penilaian, tanpa pemilihan, bukan dalam arti tertinggi, melainkan dalam segala hal; itu berarti sadar akan tindakan Anda, akan pikiran Anda, akan respons-respons Anda yang relatif, tanpa memilih, tanpa menyalahkan, tanpa mengidentifikasikan diri atau
mengingkari, sehingga batin mulai memahami setiap pikiran dan setiap tindakan tanpa penilaian. Ini mengangkat masalah apakah mungkin ada pemahaman tanpa pikiran.
PENANYA: Jelas jika Anda tidak acuh terhadap sesuatu …
J KRISHNAMURTI: Pak, ketidakacuhan adalah sejenis penilaian. Batin yang tumpul, batin yang tak acuh, bukanlah sadar [aware]. Melihat tanpa penilaian, melihat persis apa yang terjadi, itulah kesadaran [awareness]. Jadi, sia-sia mencari Tuhan atau kebenaran tanpa sadar sekarang, pada saat kini seketika. Jauh lebih mudah pergi ke kuil / tempat ibadah, tetapi itu pelarian ke alam spekulasi. Untuk memahami realitas, kita harus tahu secara langsung, dan realitas jelas bukan dari waktu dan ruang; ia ada pada saat kini, dan saat kini itu adalah pikiran dan tindakan kita sendiri.***
Arrgh, terlalu banyak… tidaak..
*pingsan/tertidur*
Ntar nyadar baca gw lg.
pelan2 aja baca nya, sambil amati reaksi pikiran. sendirian emang gak enak, yang enak mah berombongan ehueheuheu.
*gubrak..
langsung pingsan…
Berat bos bacanya…
pertama saya berkenalan dengan uraian jk (j krishnamurti) yang ada hanya pusing, mentok karena tidak memahami apapun yang di uraikan yang berakibat rasa kecewa. lalu seorang senior berkata agar tidak berniat seperti membaca buku pada umumnya, mencari atau mengharapkan suatu informasi yang baru tetapi seperti kita tengah mengamati diri sendiri. baca secara perlahan-lahan, kalimat demi kalimat, dan setiap kalimat kita hayati dalam batin kita sendiri, seolah-olah j.krishnamurti bercerita tentang batin kita, seolah-olah j.krishnamurti membaca batin kita sendiri. Ibaratnya, gunakan tulisan itu sebagai cermin untuk melihat diri sendiri. monggo pak dicoba
hmm… ntar.. berusaha baca dulu..
berusaha memahami seperti saran-nya.
Walah, rupanya ini Hegel kedua, rumit mengertinya. Seperti Rene, tapi ribet juga… ikutan pingsan dulu ah…, nanti ditelisik lagi.
http://fsckedt.googlepages.com/jkrishnamurti.HLP
http://fsckedt.googlepages.com/thebookoflife.HLP
monggo mas agorsilo ditelisik lebih lanjut dengan membaca2 dua file .hlp yang ada ini, maaf baru punya yang formatnya .hlp belum di convert ke pdf.
sebentar…
sabar…
saya telaah dulu…
Banyak dan berat tetapi asyik…
Descartes banget ya…cuma itu yang paling membekas hehehe
Saya senang dengan Descartes…tetapi menurut saya keber-adaan alias eksistensi seseorang juga tergantung dari perceiving…siapa si perceiver.
Kalau diri kita sebagai perceiver diri kita sendiri maka kita memang baru ada ketika kita berpikir…
Hehehe komentar ngaco gara2 otak korslet gara2 baca tulisan panjang di atas…
After all, nice article Bro…
ketika semua terhenti, lalu apa yang ada?.
hanya saja kata2 saya di atas itu masih berupa spekulasi karena belum mengalami nya
thanks.
ada sunyi.. hening.. kosong.. (brarti masih ada)
ato ada 2 buah cpu dan seekor asu ?
dua buah cpu, sebuah ups dan seekor asu.