On truth

Mei 17, 2007

‘You and a friend are walking along the path (…) And as you go along up the path you happen to pick up something ravishingly beautiful, sparkling, a jewel of extraordinary antiquity and beauty. You are so astonished to find it (…) You look at it with great astonishment (… ) You hold it for some time, amazed and silent. Then you put it very carefully in your inside pocket, button it, and are almost frightened that you might lose it or that it might lose its sparkling, shining beauty. And you put your hand outside the pocket that holds it. The other sees you doing this and sees that your face and your eyes have undergone a remarkable change. There is a kind of ecstasy, a speechless wonder, a breathless excitement. When the man asks: ‘What is it that you have found and are so extraordinarily elated by?’ you reply in a very soft, gentle voice (it seems so strange to you to hear your own voice) that you picked up truth. You don’t want to talk about it, your are rather shy; the very talking might destroy it. And the man who is walking beside you is slightly annoyed that you are not communicating with him freely, and he says that if you have found the truth, then let’s do down into the valley and organize it so that others will understand it, so that others will grasp it and perhaps it will help them. You don’t reply, you are sorry that you ever told him about it’.

*Translasi oleh Thanissaro Bhikkhu.

*Samyutta Nikaya LVI.31

Pada suatu ketika, Sang Bhagava menetap di Kosambi, di hutan Simsapa. Lalu,
sambil memungut beberapa helai daun Simsapa dengan tangannya, beliau
bertanya kepada para bhikkhu, “Bagaimana kalian melihat ini, para bhikkhu?
Manakah yang lebih banyak, beberapa helai daun Simsapa di tanganku ini
ataukah semua daun Simsapa di dalam hutan ini?”

“Daun yang ada di tangan Sang Bhagava itu jumlahnya sedikit, Bhante. Daun
yang ada di hutan ini jauh lebih banyak.”

“Seperti itu pula, para bhikkhu, hal-hal yang aku ketahui secara langsung
tetapi tidak kuajarkan jauh lebih banyak [daripada hal-hal yang kuajarkan].
Dan mengapa itu tidak kuajarkan? Oleh karena hal-hal itu tidak berkaitan
dengan tujuan [hidup suci], tidak berhubungan dengan dasar-dasar hidup
suci, dan tidak membawa pada tanggalnya kelekatan, pada lenyapnya hawa
nafsu, pada pemadaman, pada keheningan, pada pengetahuan langsung, pada
kesadaran diri, pada terurainya belenggu. Itulah sebabnya hal-hal itu tidak
kuajarkan.
“Dan apakah yang kuajarkan? ‘Inilah dukkha; inilah sebab musabab dukkha;
inilah lenyapnya dukkha; inilah jalan praktek menuju lenyapnya dukkha.’
Itulah yang kuajarkan. Dan mengapa hal-hal itu kuajarkan? Oleh karena
hal-hal itu berkaitan dengan tujuan [hidup suci], berhubungan dengan
dasar-dasar hidup suci, dan membawa pada tanggalnya kelekatan, pada
lenyapnya hawa nafsu, pada pemadaman, pada keheningan, pada pengetahuan
langsung, pada kesadaran diri, pada terurainya belenggu. Itulah sebabnya
hal-hal itu kuajarkan.”
“Oleh karena itu tugas kalian adalah merenungkan, ‘Inilah dukkha; inilah
sebab musabab dukkha; inilah lenyapnya dukkha; inilah jalan praktek menuju
lenyapnya dukkha.’ “

tentang tuhan

Januari 12, 2007

*tips: baca pelan – pelan dan amati gerak gerik pikiran.

*dari: J Krishnamurti, “On God”, 1992

PENANYA: Manusia harus tahu Tuhan itu apa sebelum ia dapat mengenal Tuhan. Bagaimana Anda mengenalkan ide Tuhan kepada manusia tanpa menarik Tuhan ke tingkat manusia?

J KRISHNAMURTI: Tidak dapat, Pak. Begini, apakah dorongan di balik pencarian Tuhan, dan apakah pencarian itu nyata? Bagi kebanyakan dari kita, itu pelarian dari aktualitas. Baca entri selengkapnya »

*dari milis mubi

PENGANTAR:
Berikut adalah sebuah tulisan Bhante Pannyavaro yang saya terima langsung dari beliau pagi ini. Di kalangan para bhikkhu, tulisan ini sangat orisinal; di sini beliau mengontraskan antara “cara konvensional” dan “cara vipassana” untuk mengatasi si aku. Di dalam “cara vipassana”, orang tidak perlu menggunakan konsep ‘Anatta’ untuk melawan keakuan, tidak perlu ada keinginan untuk melenyapkan keakuan karena dianggap tidak sesuai dengan Dhamma (Ajaran). Yang “diperlukan” cukup perhatian terus-menerus, pengawasan secara pasif, terhadap keakuan setiap kali ia muncul. “Cara konvensional” tidak menghabiskan keakuan. “Cara vipassana” akan mengikis habis keakuan dengan menyadari ketidakkekalan keakuan. <Hudoyo> Baca entri selengkapnya »