ajari aku menulis

Agustus 7, 2007

ajari aku menulis dengan air laut sebagai tinta nya, dan kebenaran yang ada hanyalah goresan garam yang tertinggal. menguap.

satu kaki

Agustus 7, 2007

satu kaki di dunia ini, satu kaki di dunia itu. menjejak khayal di tiap hari. menabrak realita. hati yang lelah mengejar. dua kaki di sini bosan menunggu sinyal otak komando bergerak.

On truth

Mei 17, 2007

‘You and a friend are walking along the path (…) And as you go along up the path you happen to pick up something ravishingly beautiful, sparkling, a jewel of extraordinary antiquity and beauty. You are so astonished to find it (…) You look at it with great astonishment (… ) You hold it for some time, amazed and silent. Then you put it very carefully in your inside pocket, button it, and are almost frightened that you might lose it or that it might lose its sparkling, shining beauty. And you put your hand outside the pocket that holds it. The other sees you doing this and sees that your face and your eyes have undergone a remarkable change. There is a kind of ecstasy, a speechless wonder, a breathless excitement. When the man asks: ‘What is it that you have found and are so extraordinarily elated by?’ you reply in a very soft, gentle voice (it seems so strange to you to hear your own voice) that you picked up truth. You don’t want to talk about it, your are rather shy; the very talking might destroy it. And the man who is walking beside you is slightly annoyed that you are not communicating with him freely, and he says that if you have found the truth, then let’s do down into the valley and organize it so that others will understand it, so that others will grasp it and perhaps it will help them. You don’t reply, you are sorry that you ever told him about it’.

Saya tidak tahu apakah Anda pernah merasa kesepian; ketika tiba-tiba Anda menyadari bahwa Anda tidak punya hubungan dengan siapa pun — bukan suatu kesadaran intelektual, melainkan kesadaran aktual …. dan Anda terisolasi sepenuhnya. Setiap pikiran dan emosi terhalang; Anda tidak bisa berpaling ke mana pun; tidak ada siapa pun untuk didatangi: tuhan, dewa, malaikat, semua telah lenyap di balik awan, dan
ketika awan itu lenyap, mereka juga lenyap; Anda sepenuhnya kesepian [lonely] — saya tidak akan menggunakan kata ‘sendiri’ [alone].
‘Sendiri’ mempunyai arti yang lain sekali; ‘sendiri’ memiliki keindahan. ‘Berada sendiri’ mempunyai makna yang sama sekali lain. Dan Anda harus berada sendiri. Bila manusia membebaskan diri dari struktur sosial dari keserakahan, irihati, ambisi, arogansi, pencapaian, status — jika ia membebaskan diri dari semua itu, maka ia berada sepenuhnya sendiri. Itu hal yang lain sekali. Maka di situ terdapat keindahan besar, rasa akan energi yang besar.

*Translasi oleh Thanissaro Bhikkhu.

*Samyutta Nikaya LVI.31

Pada suatu ketika, Sang Bhagava menetap di Kosambi, di hutan Simsapa. Lalu,
sambil memungut beberapa helai daun Simsapa dengan tangannya, beliau
bertanya kepada para bhikkhu, “Bagaimana kalian melihat ini, para bhikkhu?
Manakah yang lebih banyak, beberapa helai daun Simsapa di tanganku ini
ataukah semua daun Simsapa di dalam hutan ini?”

“Daun yang ada di tangan Sang Bhagava itu jumlahnya sedikit, Bhante. Daun
yang ada di hutan ini jauh lebih banyak.”

“Seperti itu pula, para bhikkhu, hal-hal yang aku ketahui secara langsung
tetapi tidak kuajarkan jauh lebih banyak [daripada hal-hal yang kuajarkan].
Dan mengapa itu tidak kuajarkan? Oleh karena hal-hal itu tidak berkaitan
dengan tujuan [hidup suci], tidak berhubungan dengan dasar-dasar hidup
suci, dan tidak membawa pada tanggalnya kelekatan, pada lenyapnya hawa
nafsu, pada pemadaman, pada keheningan, pada pengetahuan langsung, pada
kesadaran diri, pada terurainya belenggu. Itulah sebabnya hal-hal itu tidak
kuajarkan.
“Dan apakah yang kuajarkan? ‘Inilah dukkha; inilah sebab musabab dukkha;
inilah lenyapnya dukkha; inilah jalan praktek menuju lenyapnya dukkha.’
Itulah yang kuajarkan. Dan mengapa hal-hal itu kuajarkan? Oleh karena
hal-hal itu berkaitan dengan tujuan [hidup suci], berhubungan dengan
dasar-dasar hidup suci, dan membawa pada tanggalnya kelekatan, pada
lenyapnya hawa nafsu, pada pemadaman, pada keheningan, pada pengetahuan
langsung, pada kesadaran diri, pada terurainya belenggu. Itulah sebabnya
hal-hal itu kuajarkan.”
“Oleh karena itu tugas kalian adalah merenungkan, ‘Inilah dukkha; inilah
sebab musabab dukkha; inilah lenyapnya dukkha; inilah jalan praktek menuju
lenyapnya dukkha.’ “